• Pengaruh Perubahan Kurikulum Terhadap Gaya Belajar Siswa



    PENGARUH PERUBAHAN KURIKULUM TERHADAP GAYA BELAJAR SISWA
    Oleh:

    IBNU THOHIR 932506915
    KELAS RABU 14.40-16.20

    B
    elajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Hamper semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap manusia terbentuk, dimodifikasi dan berkembang karena belajar (suryabrata, 2002). Dengan demikian, belajar merupakan proses penting yang terjadi dalam kehidupan setiap orang. Karenanya, pemahaman yang benar tentang konsep belajar sangat diperlukan, terutama bagi kalangan pendidik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
    Menurut seorang ahli pendidikan, Dimyati Mahmud, bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Dalam hal ini juga ditekankan pada pentingnya perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak.
    Dalam gaya belajar meliputi metode yang digunakan, strategi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Gaya belajar yang digunakan dalam ktsp biasanya  guru dominan lebih aktif di dalam kelas, selain itu KTSP juga lebih mengajarkan atau mengarah ke aspek pengetahuan, belum sepenuhnya menggambarkan pribadi peserta didik. Dari kebiasaan guru yang lebih banyak dominan dibandingkan siswa, maka siswa cenderung mengalami kebosanan dan kejenuhan ketika di dalam kelas, karena siswa lebih banyak mendengarkan daripada beraktivitas. Metode yang lebih sering digunakan adalah metode ceramah dan tanya jawab. Sedangkan dalam kurikulum 2013 peserta didik dituntut lebih aktif dan kreatif. Guru bertugas mendampingi peserta didik dan mengontrol proses pembelajaran. Metode yang digunakan adalah metode diskusi dan demonstrasi.
    Dalam kurikulum 2013 menekankan pengembangan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara menyeluruh. Munculnya pendidikan karakter dan budi pekerti yang telah diintegrasikan ke dalam semua program studi atau mata pelajaran. Gaya belajar yang sebelumnya tidak terlalu membuat siswa aktif dalam kelas, artinya stimulus diberikan oleh guru berupa penjelasan dan soal-soal latihan, kemudia siswa baru memberikan respon. Selain itu, siswa lebih dominan diarahkan ke aspek pengetahuan dan mengesampingkan pendidikan karakter.
    Sedangkan dalam kurikulum 2013 dari awal siswa diberikan tema-tema yang selanjutnya siswa mencari materi secara mandiri, menyelesaikan persoalan secara mandiri, dan lebih banyak diskusi di kelas. Dengan adanya diskusi, maka psikososial dari peserta didik akan lebih berkembang, tetapi banyak peserta didik yang belum mampu untuk mengikuti proses pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Siswa sudah terlanjur nyaman dengan metode belajar KTSP yang mengandalkan guru dalam menjelaskan. Karenanya, muncul ketergantungan yang mengakibatkan siswa kesusahan apabila diarahkan untuk mandiri. Akhirnya, siswa merasa putus asa karena ketidakmampuannya.


  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar